konsensus PNPK buku ajar Pedoman SPM

Rabu, 30 November 2016

Parafimosis


Masalah Kesehatan
Parafimosis merupakan kegawatdaruratan karena dapat mengakibatkan terjadinya ganggren yang diakibatkan preputium penis yang diretraksi sampai di sulkus koronarius tidak dapat dikembalikan pada kondisi semula dan timbul jeratan pada penis di belakang sulkus koronarius.


Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan
1. Pembengkakan pada penis
2. Nyeri pada penis

Faktor Risiko
Penarikan berlebihan kulit preputium (forceful retraction) pada laki-laki yang belum disirkumsisi misalnya pada pemasangan kateter.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik
1. Preputium tertarik ke belakang glans penis dan tidak dapat dikembalikan ke posisi semula
2. Terjadi eritema dan edema pada glans penis
3. Nyeri
4. Jika terjadi nekrosis glans penis berubah warna menjadi biru hingga kehitaman

Penegakan Diagnosis (Assessment)
Diagnosis Klinis
Penegakan diagnosis berdasarkan gejala klinis dan peneriksaan fisik

Diagnosis Banding
Angioedema, Balanitis, Penile hematoma

Komplikasi
Bila tidak ditangani dengan segera dapat terjadi ganggren

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
Penatalaksanaan
1. Reposisi secara manual dengan memijat glans selama 3-5 menit. Diharapkan edema berkurang dan secara perlahan preputium dapat dikembalikan pada tempatnya.
2. Dilakukan dorsum insisi pada jeratan

Rencana Tindak Lanjut
Dianjurkan untuk melakukan sirkumsisi.

Konseling dan Edukasi
Setelah penanganan kedaruratan disarankan untuk dilakukan tindakan sirkumsisi karena kondisi parafimosis tersebut dapat berulang.

Kriteria Rujukan
Bila terjadi tanda-tanda nekrotik segera rujuk ke layanan sekunder.

Peralatan
Set bedah minor

Prognosis
Prognosis bonam bila penanganan kegawatdaruratan segera dilakukan.

Referensi
1. Sjamsuhidajat R, Wim de Jong. Saluran kemih dan alat kelamin lelaki. Buku Ajar Imu Bedah.Ed.2. Jakarta: EGC,2004.
2. Hayashi Y, Kojima Y, Mizuno K, danKohri K. Prepuce: Phimosis, Paraphimosis, and Circumcision. The Scientific World Journal. 2011. 11, 289–301.
3. Drake T, Rustom J, Davies M. Phimosis in Childhood. BMJ 2013;346:f3678.
4. TekgülS,Riedmiller H, Dogan H.S, Hoebeke P, Kocvara R, Nijman R, RadmayrChr, dan Stein R. Phimosis. Guideline of Paediatric Urology. European Association of Urology. 2013. hlm 9-10

0 komentar:

Posting Komentar